Selasa, 19 Februari 2013

asesmen


BAB I
PENDAHULUAN

Asesmen psikologi memiliki rentang cakupan yang sangat luas. Dalam asesmen psikologi mengintegrasi informasi dari berbagai sumber. Asesmen membantu seseorang dalam mendapatkan gambaran tentang karakteristik potensi dari segi kemampuan dan  kesanggupan dirinya.
Pada makalah ini, ditinjau kriteria yang berbeda antara pengertian asesmen tes, prosedur penggunaan asesmen dalam konseling, serta hakikat asesmen psikologis dalam konseling. Dimana pembahasan tersebut dapat menggambarkan konsep dasar asesmen psikologis yang luas.
Dalam buku B.Hood & Johnson (1993) menjelaskan bahwa asesmen sebagai metoda pengukuran dimana penggunaannya dapat dilihat dari Orientasi masalah, identifikasi masalah, memilih alternatif solusi, verifikasi, serta pembuatan keputusan.

Di dalam bukunya juga menjelaskan bahwa asesmen psikologis  berbeda  satu sama lain dalam berbagai cara. Perbedaan-perbedaan ini dapat dikategorikan oleh enam pertanyaan mendasar mengenai sifat dari  penilaian itu sendiri, seperti dalam hal yang membuat penilaian, apa yang dinilai, dimana penilaian terjadi, kapan terjadi penilaian, mengapa penilaian dilakukan, dan bagaimana penilaian dilakukan.

Untuk memperluas ilmu pengetahuan, maka pada bab selanjutnya juga akan dibahas menurut sumber lainnya yang akan memperkuat atau membandingkan dari setiap pembahasan yang dipaparkan untuk kemudian disimpulkan berdasarkan wawasan penulis.



BAB II
RINGKASAN

A.    PENGERTIAN ASESMEN TES
Menurut standardsfor dan psikologis pendidikan tes, sebuah sumber otoritatif  ( wagner, 1987 ), asesmen tes merupakan salah satu metode yang digunakan untuk mengukur karakteristik dari orang, program, atau benda.
Dimana model pemecahan masalah ini menyediakan cara yang efektif dalam psikologis  penilaian. Setiap langkah dalam metode pemecahan masalah memerlukan kebutuhan informasi yang dapat diperoleh melalui penilaian.
Asesmen tes juga dapat  meningkatkan kepekaan terhadap potensi masalah. Instrumen yang menggambarkan kesadaran diri dan eksplorasi diri dapat merangsang individu untuk mengatasi isu-isu perkembangan dan mencegah terjadinya masalah.

B.     PENGGUNAAN PROSEDUR ASESMEN DALAM KONSELING

Untuk mengimbangi kritik tes, konselor perlu menyadari kekuatan dan keterbatasan dari berbagai tes yang digunakan dalam konseling. Mereka perlu mempelajari prosedur yang efektif dan tepat untuk memilih, serta  menafsirkan tes dalam konseling. Mereka harus mampu mengintegrasikan penggunaan asesmen psikologis prosedur dengan aspek-aspek lain dari konseling untuk membantu klien dengan pemahaman diri dan self-determination.
Hood & Johnson (1993) menjelaskan bahwa penggunaan asesmen dalam bimbingan dan konseling mempunyai beberapa tujuan yang dapat digambarkan dengan cara dari lima langkah dasar di pemecahan masalah model disajikan oleh d ' zurilla dan goldfried ( tahun 1971 ) :
1.             Orientasi masalah, yaitu untuk membuat konseli mengenali dan menerima permasalahan yang dihadapinya, tidak mengingkari bahwa ia bermasalah.
2.             Identifikasi masalah, yaitu membantu baik bagi konselee maupun konselor dalam mengetahui masalah yang dihadapi konseli secara mendetil.
3.             Memilih alternatif solusi dari berbagai alternatif penyelesaian masalah yang dapat dilakukan oleh konselei.
4.             Pembuatan keputusan alternatif pemecahan masalah yang paling menguntungkan dengan memperhatikan konsekuensi paling kecil dari beberapa alternatif  tersebut.
5.             Verifikasi untuk menilai apakah konseling telah berjalan efektif dan telah mengurangi beban masalah konselei atau belum.
Penilaian menyajikan fungsi-fungsi berikut: (a) untuk merangsang konselor dan klien untuk mempertimbangkan berbagai masalah, (b) untuk menjelaskan sifat masalah atau masalah, (c) dapat menyarankan  solusi untuk masalah, (d) menyediakan sebuah metode untuk membandingkan berbagai alternatif sehingga keputusan dapat dibuat atau dikonfirmasi, dan (e) untuk mengaktifkan konselor dan klien dalam mengevaluasi efektivitas solusi tertentu.

C.    HAKIKAT ASESMEN PSIKOLOGI DALAM KONSELING

Asesmen psikologis  berbeda  satu sama lain dalam berbagai cara. Perbedaan-perbedaan ini dapat dikategorikan oleh enam pertanyaan mendasar mengenai sifat dari  penilaian itu sendiri, seperti dalam hal yang membuat penilaian, apa yang dinilai, dimana penilaian terjadi, kapan terjadi penilaian, mengapa penilaian dilakukan, dan bagaimana penilaian dilakukan.

1.         Apa yang dinilai?
Apa” di sini menunjuk kepada subjek prosedur penilaian. Apakah individu atau lingkungan subjek penilaian?
Jika individu yang dinilai, apakah isi dari penilaian berurusan terutama dengan afektif (perasaan), kognitif (berpikir), atau perilaku (melakukan) aspek-aspek individu? Kognitif variabel mungkin didasarkan pada pembelajaran yang terjadi dalam kursus tertentu, (Lapangan-terkait), atau belajar yang relatif independen dari kursus tertentu (non-Lapangan-terkait)
2.         Dimana ada penilaian berlangsung?
 Lokasi di mana penilaian berlangsung penting dalam arti bahwa hal ini membantu untuk membedakan antara hasil tes yang diperoleh dalam laboratorium pengaturan dari orang-orang yang diperoleh dalam pengaturan alam. Banyak tes psikologi harus diberikan di bawah kondisi standar sehingga hasil tes dapat diinterpretasikan dengan benar. Jika keadaan tes administrasi berbeda dari orang ke orang, perbedaan dalam kondisi pengujian dapat mempengaruhi hasil tes.

3.         Kapan penilaian terjadi?
 Pertanyaan tentang Kapan penilaian terjadi adalah nilai dalam membedakan antara penilaian direncanakan di muka (calon) sebagai lawan yang didasarkan pada (retrospektif). Self-Monitoring teknik biasanya direncanakan sebelumnya. Sebagai contoh, siswa dapat diminta untuk melacak jumlah jam yang mereka pelajari atau jumlah halaman yang mereka membaca selama masa studi. Sebaliknya, langkah-langkah biografi seperti bentuk-bentuk kehidupan sejarah tercatat untuk yang terbaik dari ingatan individu setelah acara telah terjadi.
4.         Mengapa penilaian dilakukan?
 Pertanyaan tentang mengapa berkenaan dengan alasan untuk melaksanakan tes daripada sifat tes itu sendiri. Tes yang sama dapat digunakan untuk berbagai keperluan, seperti konseling, pilihan, penempatan, deskripsi, dan evaluasi. Ketika tes yang digunakan dalam konseling, semua data yang diperoleh harus dianggap sebagai rahasia.

5.         Bagaimana aliran adalah penilaian dilakukan?
Disini merujuk kedua cara di mana materi tes pra-sented dan bagaimana untuk prosedur penilaian diperoleh. Pertama, adalah jenis perilaku yang sedang dinilai menyamar atau terang-terangan? sehingga responden biasanya tidak menyadari sifat sejati dari tes atau jawaban 'pilihan'. Karena tujuan tes menyamar, itu lebih sulit untuk responden untuk jawaban mereka untuk menghasilkan jenis tertentu kesan palsu.







BAB III
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Asesmen Tes Menurut Beberapa Sumber Lain

a.              Pengertian Tes

a. Menurut Riduwan ( 2006: 37)
tes sebagai instrumen pengumpulan data adalah serangkaian pertanyaan / latihan yang digunakan untuk mengukur ketrampilan pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki individu / kelompok.
b. Menurut Allen Philips (1979: 1-2)
Test biasanya diartikan sebagai alat atau instrumen dari pengukuran yang digunakan untuk memperoleh data tentang suatu karakteristik atau ciri yang spesifik dari individu atau kelompok.)
c. Menurut Rusli Lutan (2000:21)
tes adalah sebuah instrument yang dipakai untuk memperoleh informasi tentang seseorang atau obyek.

b.      Pengertian Assessment

·      Menurut Buana (www.fajar.co.id/news.php).
 assessment adalah alih-bahasa dari istilah penilaian. Penilaian atau assessment adalah kegiatan menentukan nilai suatu objek, seperti baik-buruk, efektif-tidak efektif, berhasil-tidak berhasil, dan semacamnya sesuai dengan kriteria atau tolak ukur yang telah ditetapkan sebelumnya.


·      Menurut Suharsimi yang dikutip oleh Sridadi(2007)
 penilaian adalah suatu usaha yang dilakukan dalam pengambilan keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik-buruk → bersifat kualitatif.

·      Menurut Rusli Lutan (2000:9)
assessment termasuk pelaksanaan tes dan evaluasi. Asessment bertujuan untuk menyediakan informasi yang selanjutkan digunakan untuk keperluan informasi.
Dari kedua pengertian di atas dapat kita simpul kan bahwa asesmen tes adalah
Asesmen tes  adalah kegiatan menentukan nilai dalam pengambilan keputusan terhadap sesuatu dengan tolak ukur yang telah ditetapkan. Dimana penilaian dilakukan dengan cara mengukur ketrampilan pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki individu / kelompok untuk memperoleh data atau informasi tentang suatu karakteristik atau ciri yang spesifik dari individu atau kelompok tersebut.
Informasi itu tidak hanya didapat dari tes tetapi juga dari hasil wawancara dan penelusuran riwayat hidup. Tes memiliki pengaruh yang cukup penting terhadap proses assessment

B.     PENGGUNAAN PROSEDUR ASESMEN DALAM KONSELING
Prosedur-prosedur dan instrumen-instrumen (alat) asesmen—seperti test, dikatakan efektif ketika mereka memenuhi standar validitas (tepat dan akurat), reliabilitas (keajegan), dan kepekaan terhadap isu-isu kultural. Instrument asesmen yang tepat memungkinkan jawaban-jawaban yang khas dari konseli menurut kelompok usia, jenis kelamin, latar belakang budaya, dan kondisi geografis. (widyapur.blogspot)
Menurut Anne anastasi, Ada beberapa pertimbangan yang perlu mendapat perhatian para konselor dalam penggunaan prosedur asesmen dalam  bimbingan dan konseling. Antara lain adalah :
a)        Instrumen yang dipakai haruslah yang sahih dan terandalkan. Pemilihan instrumen yang akan dipergunakan didasarkan atas ketepatan kegunaan dantujuan yang hendak dicapai.
b)        Pemakai instrumen (dalam hal ini konselor) bertanggung jawab atas pemilihan instrumen yang akan dipakai (misalnya tee), monitoring pengadministrasiannya dan skoring, penginterpretasian skor dan penggunaannya sebagai sumber informasi bagi pengambilan keputusan tertentu (Anastasi, 1992).
c)        Pemakaian instrumen, harus dipersiapkan secara matang, bukan hanya persiapan instrumennya saja, tetapi persiapan klien yang akan mengambil tes itu. klien hendaknya memahami tujuan dan kegunaan tes itu dan bagaimana kemungkinan hasilnya.
d)       Perlu diingat bahwa tes atau instrumen apa pun hanya merupakan salah satu sumber dalam rangka memahami individu secara lebih luas dan dalam.

C.    HAKIKAT ASESMEN PSIKOLOGI DALAM KONSELING

Asesmen merupakan salah satu kegiatan  pengukuran. Dalam konteks bimbingan konseling, asesmen yaitu mengukur suatu proses konseling yang harus dilakukan konselor  sebelum, selama, dan setelah konseling tersebut dilaksanakan/ berlangsung (Ratna Widiastuti, 2010).
Asesmen yang diberikan kepada klien merupakan pengembangan  dari area kompetensi dasar pada diri klien yang akan dinilai, yang kemudian akan dijabarkan dalam bentuk indikator-indikator. Pada umumnya asesmen bimbingan konseling dapat dilakukan dalam bentuk laporan diri, performance test, tes psikologis, observasi, wawancara, dan lain sebagainya.


·         Asesmen Terhadap Kemampuan Konseli
Kemampuan dimaknai sebagai suatu perubahan yang diperoleh konseli setelah mengikuti konseling.Kemampuan memahami masalah, kemampuan mengambil keputusan, dan kemampuan melaksanakan atau mengubah tingkah lakunya.

·         Asesmen Sikap Konseli Terhadap Layanan Konseling
Sikap konseli terhadap layanan konseling juga mempengaruhi keberhasilan konseling. Ketidakberhasilan konseling kemungkinan disebabkan oleh sikap negatif konseli terhadap layanan konseling.

·         Asesmen Hasil Kegiatan Konseling
Penilaian hasil kegiatan konseling adalah penilaian terhadap: (a) keterampilan konseli melaksanakan kegiatan-kegiatan hasil konseling, dan (b) keberhasilan dalam melaksanakan keputusan hasil konseling. Hasil kegiatan konseli adalah perubahan tingkah laku yang terjadi sesuai dengan harapan.

·         Asesmen Kinerja Guru BK/Konselor
Asesmen dalam konseling bukan saja diperuntukan kepada konseli, tetapi juga kepada konselor/guru BK. Hal ini dilakukan karena dalam konseling baik konseli maupun konselor ini sangat menentukan keberhasilan konseling.
(Diposkan oleh Gulunganpita.blogspot.com)

Asesmen merupakan salah satu bagian terpenting dalam seluruh kegiatan yang ada dalam konseling (baik konseling kelompok maupun konseling individual). Karena itulah asesmen dalam bimbingan dan konseling merupakan bagian yang terintegral dengan proses terapi maupun semua kegiatan bimbingan dan konseling itu sendiri.
Asesmen dilakukan untuk menggali dinamika  dan faktor penentu yang mendasari munculnya masalah. Hal ini sesuai dengan tujuan asesmen dalam bimbingan dan konseling, yaitu mengumpulkan informasi yang memungkinkan bagi konselor untuk menentukan masalah dan memahami latar belakang serta situasi yang ada pada masalah klien.



BAB IV
PENUTUP

Kesimpulan
Asesmen tes  adalah kegiatan menentukan nilai dalam pengambilan keputusan terhadap sesuatu dengan tolak ukur yang telah ditetapkan. Dimana penilaian dilakukan dengan cara mengukur ketrampilan pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki individu / kelompok untuk memperoleh data atau informasi tentang suatu karakteristik atau ciri yang spesifik dari individu atau kelompok tersebut.
Menurut Anne anastasi, Ada beberapa pertimbangan yang perlu mendapat perhatian para konselor dalam penerapan instrumental bimbingan dan konseling. Antara lain adalah :
a.Instrumen yang dipakai haruslah yang sahih dan terandalkan.
b.Pemakai instrumen (dalam hal ini konselor) bertanggung jawab atas pemilihan instrumen yang akan dipakai.
c.Pemakaian instrumen, misalnya, harus dipersiapkan secara matang
d.Perlu diingat bahwa tes atau instrumen apa pun hanya merupakan salah satusumber dalam rangka memahami individu secara lebih luas dan dalam.
Asesmen merupakan salah satu kegiatan  pengukuran. Dalam konteks bimbingan konseling, asesmen yaitu mengukur suatu proses konseling yang harus dilakukan konselor  sebelum, selama, dan setelah konseling tersebut dilaksanakan/ berlangsung.
           

Daftar Pustaka

Anastasi, Anne. 2007. Tes Psikologi. Jakarta : PT. Indeks.
Hood and Jhonson. 1993. Asessment in counseling: a guide to the use of psichological procedueres. Alexandria : American counseling assosiation.
blog.unila.ac.id"


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar